PERHIASAN DARI ZAMAN KE ZAMAN

Jewellery
(Ist)

INNChannels, Jakarta – Tidak dapat dipungkiri bahwa penampilan seorang wanita belum lengkap jika tanpa perhiasan. Seperti apa perkembangan dunia perhiasan sejak jaman Yunani dan Romawi?

Ciri perhiasan Yunani dan Romawi memiliki desain berupa gulungan tipis, rantai�rantai dengan linked and plaited wire serta lempengan tipis yang dibentuk menjadi kelopak bunga dan mawar.

Teknik gold granulation (permukaannya dihiasai butiran kecil emas), dan filigree (benang emas) juga digunakan, tetapi penggunaan batu mulai sangat jarang. Motif khasnya berupa spiral dan motif natural yang diambil dari cuttlefish dan kupu-kupu.

Perhiasan yang ditemukan di Mycenae dan Crete berbentuk lempengan emas kecil yang dibuat sedemikian rupa sehingga bisa dipasang di pakaian sehari-hari. Di zaman Archaic Greek, Etruscan dan perhiasan Italia lainnya di tahun 700-500 SM kebanyakan terinspirasi dari desain Egyptian dan Assyirian. Gaya ini diambil oleh para pedagang Phoenician dengan teknik pengerjaan yang sama.

Pada periode Hellenistic (323-31 SM) disainnya mengalami perubahan dengan munculnya pendant vases, winged Victorian, cupids dan burung merpati sebagai motif. Di saat yang sama, terjadi inovasi besar dengan penggunaan batu-batuan besar berwarna di tengah disain perhiasan yang merupakan awal dari pengaolikasian batu mulai pada zaman batu itu. Bros berbentuk peniti dan cincin sangat terkenal. Cincin dikenakan di seluruh jari tangan.

Selanjutnya perhiasan Scythian & Byzantine mendapat pengaruh dari Middle Eastern dan Classicak Greek. Item yang paling khas adalah plakat yang di dalamnya dilukisi gambar-gambar binatang. Pengaruh dari gaya ini juga dapat dilihat dari lukisan-lukisan Mossaic Empress Theodora pada abad ke-6 yang terdapat di gereja San Vitale, Italia. Saat itu semua orang hampir dipastikan mengenakan kalung, gelang dan cincin bergaya Schuthian dan Byzantine.

Kemudian pada abad ke-14, zaman awal Renaisansce, kalung-kalung mulai bervariasi, tapi tetap saja seperti collars. Anting-anting saat itu belum ditemukan sehingga yang terlihat hanya perhiasan kalung dan gelang yang sangat variatif dari segi warna. Variasi lain adalah anting mutiara panjang yang diikat dengan pita, seragam dengan gaun pemakainya. Di Inggris, anting-anting belum terkenal sebelum masa kerajaan Elizabeth. Semi disain perhiasan berkembang pesat di Eropa pada masa Georgian dan Victiorian, sampai akhirnya Platinum ditemukan pada abad ke-20.

Mesir Kuno

Perhiasan pada masa Mesir Kuno umumnya terbuat dari emas dan perak. Dengan tambahan semi mulia seperti carnelian, jasper, amethyst, turquoise, dan lapis lazuli dengan enamel dan kaca. Cincin dan gelang-gelang hip hop juga mewarnai zaman ini.

Dalam hal pemakaian juga cukup unik, biasanya para wanita mengenakan dua gelang sekaligus pada pergelangan dan atas siku di setiap tangan.

Ornamen yang paling populer adalah signet ring. Motifnya beragam mulai dari scarab (sejenis kumbang), burung elang, falcon, naga, dan bentuk mata yang diambil dari simbol-simbol keagamaan.

Di zaman Sumerian, Babylonian dan Assyirian, perhiasan berupa hiasan kepala, kalung, anting dan animal amulet figure dengan warna emas, perak dan gems banyak mendominasi zaman ini.

Perhiasan dari emas murni dan perak juga ditemukan di zaman Anatolia, Persia, dan Phoenicia. Dengan teknik seperti granulation (permukaannya dihiasai butiran kecil emas), filigree, pemasangan batu mulia dan anamel seperti cloisonn� dan chmpleve. Daerah pusat perdagangan ini ternyata mendapatkan pengaruh dari Mesir untuk perhisan Phoenician dan gaya Mesopotamian dalam disain Persia.

Memasuki abad ke-20, sekitar tahun 1900-an di Paris, disain perhiasan sangat terpengaruh oleh seni Art Nouveau yang dipopulerkan oleh Rene Lalique. Mengambil tema bentuk tumbuhan, burung dan serangga. Disain lebih diutamakan daripada penggunaan materi.

Para desainer AS seperti Louis Comfort Tiffany mengeluarkan perhiasan terbuat dari bahan ivory, glass, dan horn.

Meskipun perhiasan di abad 19 dan awal 20 banyak menginspirasi para wanita, tidak sedikit kaum pria juga mulai menggemari perhiasan batu. Peminat perhiasan meningkat di tahun 1920-an yang tekenal sebagai the Roaring Twenties. Sebuah gaya baru pun muncul dari sebuah even di Paris yang akhirnya dikenal sebagai Art Deco. Disainnya unik menampilkan abstrak geometris dengan tatanan seni modern. Emas kuning, perak bahkan hijau digunakan sebagai materi yang digabungkan dengan berbagai macam bebatuan warna-warni.

Sekarang perhiasan sudah sangat beragam. Penggunaan materi mulai batu mulia, precious metal sampai plastik berwarna. Selama evolusi perhiasan dari Zaman Mesir Kuno sampai sekarang hanya satu hal yang tidak pernah berubah, yakni tetap dicintai kaum hawa. [L1]

Advertisements
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: